Kompas, Jumat 2 Maret 2007
From the shell one knows the mollusk, from the home the inhabitant. (Victor Hugo)
Cornice, Curve, Dome, Architrave, Ionic, dan Corinthian adalah serangkaian nama produk dari gipsum arsitektural.
Aplikasinya dapat ditemukan pada dinding dan langit-langit ruangan. Istilah produk dan sebagian besar desain yang digunakan gipsum arsitektural di seluruh dunia dapat ditelusuri balik sampai 550 tahun sebelum Masehi.
Periode klasik yang dimulai bangsa Yunani dan Romawi mulai dikenal dan disukai melalui ekspedisi yang dipimpin Alexander Agung pada awal dimulainya sejarah peradaban Barat.
Ekspedisi Alexander, yang bertujuan mempersatukan bangsa-bangsa Eropa, Timur Tengah, dan Asia, telah memperkenalkan gaya arsitektur Romawi secara luas.
Akan tetapi, arsitektur klasik baru mencapai zaman keemasannya pada abad ke-15 di Italia, yakni pada saat ilmu pengetahuan, seni, dan budaya menjadi komoditas yang dimonopoli para pemimpin agama dan negara. Oleh karena itu, istana, bangunan-bangunan publik, dan tempat-tempat ibadah menjadi mahakarya arsitektur pada masa itu.
Mahakarya arsitektur klasik dijaga eksistensinya dengan program pemugaran dan pelestarian. Pancaran kemewahan dan keagungan bangunan mengabadikan si pencipta dan sekaligus sebuah era. Modernisasi diawali dengan penyebaran pengetahuan dan seni. Berilmu menjadi hak masyarakat luas dari berbagai kalangan.
Dengan kemajuan kebudayaan, apresiasi pada seni semakin meningkat. Perkembangan arsitektur menyediakan berbagai pilihan untuk diadaptasi. Desain diadopsi sesuai dengan kepribadian dan dinamisme pemilik bangunan. Sebuah rumah atau bangunan adalah cerminan karakter dari pemiliknya.
Tren klasik dan modern
Tren arsitektur di Indonesia bisa dibagi menjadi dua aliran utama: klasik dan modern. Pemasangan gipsum arsitektural pada masing-masing aliran memberi tantangan yang berbeda satu dengan yang lain. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui; tantangan terletak pada tahap perancangan, pembuatan, pemasangan, dan pekerjaan akhir (finishing).
Pada desain modern, kerapian pada bidang datar menuntut pemasangan dengan presisi tinggi secara konstan. Pengerjaan gipsum pada desain modern terhitung relatif cepat. Adapun pada desain klasik yang sarat akan tradisi, tuntutan elaborasi detail yang rumit harus sepadan dengan kebutuhan dan keharmonisan konsep keseluruhan ruangan.
Proses finishing gipsum pada desain klasik dapat disertai dengan pewarnaan. Kesesuaian warna dengan keseluruhan warna akan menimbulkan keindahan dan nuansa elegan. Kini berbagai teknik pewarnaan mulai berkembang. Wallpaper sekarang juga banyak menjadi pilihan untuk finishing dinding dan plafon.
Kekuatan desain dan tingkat keahlian (workmanship) gipsum arsitektural akan sangat terasa pada desain klasik. Demikian menurut Siska dari Dekornis—sebuah perusahaan fabrikator dan aplikator gipsum arsitektural yang beroperasi sejak tahun 1991.
Dari pengalaman mengerjakan proyek di berbagai negara, seperti di Malaysia, Amerika, Jepang, dan Dubai, Siska menyatakan, masing-masing memiliki keunikan tersendiri, tetapi ada satu kesamaan. Semua menuntut ekspresi kemewahan dan konsistensi dalam kualitas.
Gipsum arsitektural adalah bagian integral dari keseluruhan ruangan. Para produsennya menjadi moderator antara kenyataan dan impian sang pemilik rumah dengan sentuhan personal untuk mendapatkan kemewahan "rumahku istanaku".
Keseimbangan harus tercipta antara perpaduan produk yang digunakan (Cornice, Dome, Architrave, dan lain-lain). Pada puncak desainnya, ia akan menjadi titik fokus dalam interior bangunan.
Para pelanggan gipsum arsitektural adalah individu yang dewasa dan mapan. Kelompok ini sangat sadar akan kebutuhannya dan memiliki cita rasa tinggi. Kebutuhan akan sebuah domain yang anggun dan indah.
Representasi dari panutan masing-masing gaya hidup, ideologi, dan kebudayaan. Tempat di mana bisa menjadi saksi kehidupan dan sebuah perayaan kehidupan (celebration of life).
Pemakaian bahan dasar gipsum mulai menggantikan pendahulunya, tripleks. Beberapa alasan berikut ini adalah sifat unggul gipsum sehingga menjadikannya populer. Kualitas fire-retardant merupakan sifat alami dari gipsum.
Bahan dasar gipsum menawarkan fleksibilitas desain dan pengerjaan dan melayani setiap permintaan custom-made. Pembentukan leveling dan dome dapat dilakukan karena fleksibilitas pengerjaan gipsum yang tinggi. Selain dapat tahan seumur bangunan, keberadaan gipsum arsitektural merupakan investasi dan nilai tambah pada bangunan.








